Ketika Platform Berubah Maka Kehidupan Dan Bisnis Ikut Berpindah (SHIFTING DESA)

Dalam laporan yang berjudul No Ordinary Disruption (Richard Dobbs, 2016) ditemukan empat sumber perubahan besar di dunia, salah satunya ialah semakin banyaknya megacity, yaitu kota-kota besar yang berpenduduk di atas supuluh juta jiwa. Sebanyak tiga perempat penduduk dunia dari pedesaan diketahui akan berpindah ke kota karena urbanisasi. Sebanyak delapan dari sepuluh kota yang berpenduduk di atas 23 juta orang berada di Asia, China memiliki lima belas dari total 46 megacity di dunia, sedangkan Amerika Serikat hanya memiliki dua, yaitu New York dan Los Angeles.

Tokyo menjadi top list dengan total 37 juta penduduk, diikuti Jakarta Raya (The Greater Jakarta) di peringkat kedua dengan 31 juta penduduk. Total tersebut sudah termasuk dengan kota-kota penopang di sekitar Jakarta, seperti Depok, Tangerang Selatan, Bogor, dan Bekasi menjadi pusat perekonomian dan kehidupan Indonesia.

Di Indonesia sendiri kota-kota yang sudah bergeser menjadi kota metropolitan adalah Bandung, Surabaya, dan Medan yang memiliki penduduk di atas 2 juta orang. Namun, kalau Anda rajin berkeliling Nusantara, Anda akan terkejut. Praktis kota-kota kecil telah berubah menjadi kota yang sangat padat, macet luar biasa, dan kota semakin melebar sehingga muncul kota-kota administratif baru. Dengan angka urbanisasi mencapai 4,1% (di atas rata-rata dunia 3,6%), Makassar setiap tahunnya harus mengantisipasi para pendatang sebanyak 100.000 orang. Saat ini, 54% penduduk dunia berada di kota dan diprediksi pada tahun 2035, akan menjadi 66%.

Namun, ada paradoks yang terjadi di Indonesia semenjak Undang-Undang Desa disahkan pada 2014. Pemerintah Indonesia justru memfokuskan perhatiannya kepada desa. Inisiatif pengembangan desa sangat gencar ditingkatkan. Bila pada 2015 jumlah dana desa yang sudah didistribusikan baru sebesar Rp 20,7 triliun, maka pada 2017 telah mencapai Rp 60 triliun. Total sejak 2015 sudah sekitar Rp 120 triliun. Dana itu dipakai untuk menggerakkan perekonomian desa dalam bentuk infrastruktur dasar seperti tambatan perahu, jalan desa, MCK, penahan longsor, drainase, dan sebaginya.

Apa makna dari pertentangan ini? Apakah Indonesia menjadi negara yang berdiri di atas megacity? Ataukah yang maju berkembang dari desa?

IMPIAN MASA DEPAN

Di daearah sekitar Cirebon, ternyata hanya sekitar 10% dari total petani padi yang berusia muda. Untuk pertanian sayuran jumlahnya cukup melegakan, sekitar 50%. Urbanisasi kaum muda desa ke kota besar tak terelakkan ketika kota dianggap lebih menyediakan harapan dan kesempatan.

Anak-anak muda ingin bekerja di bank, menjadi pengacara, dokter, pegawai, ataupun pekerjaan “bonafide” lainnya di kota. Walaupun pada kenyataannya sebagian besar terdampar di sektor usaha informal dan buruh-buruh berketrampilan rendah. Seakan impian itu mudah diraih: Sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, punya rumah atau mobil, liburan keliling dunia. Padahal, yang terjadi ialah sebagian besar hanya mampu membayar cicilan sepeda motor dan telepon seluler.

PEKERJAAN YANG HILANG

Di sisi lain kita membaca, World Economic Forum (WEF) memprediksi akan ada 5 juta jenis pekerjaan yang hilang pada 2020. Dari jumlah manusianya, akan meningkat menjadi 2 miliar yang akan kehilangan pada 2030. Menurut laporan The Financing Commission on Global Education Oppurtunity, yang dibentuk oleh PBB, kejadian ini antara lain disebabkan oleh otomatisasi.

Bayangkan pada 2017, perubahan pembayaran tol menjadi nontunai saja membuat para penjaga tol di bawah PT Jasa Marga harus mengikuti program re-orientasi. Di jalan tol, kini hampir tidak ada lagi yang melayani kita semua dilakukan serba otomatis.

Di masa depan juga kita ketahui, tidak diperlukan lagi teller bank karena semuanya sudah cashless. China sudah sejak 2014 menerapkan cashless society dan pada tahun 2017 sudah mencapai 90% penetrasi populasi yang menrapkan chasless.

Yang perlu digarisbawahi bahwa yang hilang itu pekerjaan bukan work-nya. Ini berarti kelak akan tercipta pekerjaan-pekerjaan baru yang 10-20 tahun lalu tidak pernah terdengar. Sebut saja UX/UI Designer, Scrum Master, Growth Engineer, Drone Controller, Social Media Specialist, dan lain-lain. Berbagai nama tersebut menajdi gambaran bahwa pekerjaan pun mengalami pergeseran.

Pertanyaannya, ke mana kalangan low-skill akan berpindah? Dibiarkan menjadi pengangguran atau diajak kembali ke desa?

MATA TERTUJU PADA DESA

Kalau program dana desa berhasil maka Indonesia bisa memberi prospektif lain pada dunia. Ya, Shifting yang terjadi bisa berkebalikan dengan gejala megacity, dari kota ke desa. Desa akan menjadi pusat kegiatan ekonomi yang produktif. Bukankah gejalanya mulai kelihatan?

Dengan adanya dana desa maka desa bisa mandiri dengan mendirikan BUMDES untuk mengelola usaha atau bisnis di desa. Sebagai contoh Umbul Ponggok, Klaten Jawa Tengah yang terkenal dengan wisata bawah air nya. Usaha ini dikelola oleh BUMDES dengan omzet 15 miliar per tahun (2017). Contoh lainnya Kalibiru, Panggungharjo, Pandeglang, Kendal, Waingapu dan Lampung Timur. Mereka adalah contoh-contoh desa yang ekonominya menggeliat maju.

BUMDES DAN PRUKADES

Dana desa tentu tidak hanya untuk membangun infrastruktur desa, tetapi juga bisa menjadi pemicu pertumbuhan. BUMDES bergerak menjadi fungsi business unit yang bekerja menghasilkan keuntungan untuk desa dan menggerakkan produk-produk desa agar menjadi kegiatan ekonomi produktif. BUMDES juga dibangun di dearah-daerah spesifik yang menjadi kawasan pengembangan Produk Unggulan Kawasan Desa (PRUKADES).

Melolo, Waingapu, Sumba Timur menjadi cerita manis bagaimana desa dengan program BUMDES dan PRUKADES mampu menciptakan penghasilan dari perkebunan tebu. Kalau tidak ada rintangan, diperkirakan pada 2019, daerah yang dulu terkenal gersang ekstrem ini akan mampu menghasilkan sebanyak 200 ribu ton gula per tahun.

Di Pandegelang, Banten, inisiatif Prukades juga dapat menurunkan jumlah desa tertinggal sebanyak 70%, dari 174 desa menjadi hanya 54 desa. Di daerah Lampung Timur, para petani nanas bisa langsung menyuplai kepada off taker besar untuk kebutuhan ekspor. Fokus perkembangan Prukades memang 83% untuk pertanian,yang diantaranya produk hortikultura yaitu alpukat, jambu mente, jeruk, stroberi, vanili, lada, rumput laut, cengkih dan kakao.

Tentunya setiap program yang diupayakan masih memerlukan penguatan di berbagai sektor. Dampak besarnya mungkin akan bisa dirasakan 5-10 tahun lagi kalau pemimpin yang mengerjakannya konsisten fokus ke desa, saat para pemuda tidak perlu lagi ke kota dan mereka menjadi pengusaha di tempat kelahirannya. Atau, bahkan Anda dapat melihat banyak kaum muda kreatif kota yang akan shifting ke desa dengan kerinduan akan fresh air, fresh food, dan fresh waternya. Syaratnya tentu saja ada infrastruktur yang memadai, ada kegiatan ekonomi yang memungkinkan mereka menjadi lebih produktif, dan satu lagi:teknologi internet yang menjamin konektivitas.

PENGEMBANGAN DESA, KE MANA ARAHNYA?

Apa yang dilakukan oleh Kemendesa sebagai perpanjangan tangan pemerintah berupa Dana Desa, BUMDES, PRUKADES, ialah langkah yang sangat baik dalam mempercepat pembangunan yang ada di desa. Jika kita amati lebih lanjut, model pendekatan yang dilakukan oleh Kemendesa, ternayata juga mulai disadari di negeri-negeri lain beberapa tahun terakhir. Bangladesh, Pakistan, dan sejumlah negara lainnya sudah diajak Bank Dunia untuk meninjau dan belajar dari Indonesia. Uni Eropa misalnya juga mulai  mempunyai program yang sangat mirip dengan dana desa, yaitu direct funding kepada para petani, yang didukung oleh pengembangan desa dalam program rural development, yang berfokus pada pengembangan arikultur dan ketahanan  pangan.

Lebih lanjut, menurut Bourgeois (2015) dalam laporannya pada Journal Development, ada 8 faktor yang akan mempengaruhi transformasi desa, yaitu Globalisasi, Konektivitas, Pola konsumsi, Penurunan ekologis dan kelangkaan sumber daya, Dinamika populasi, Urbanisasi, Pengembangan teknologi dan kesejahteraan.

Faktor Dampak Potensi Inisiatif Kemendesa
Globalisasi Aliran dana, barang, dan ide. Desa dapat menjadi lebih dekat dengan kota. Perlu menjembatani kebutuhan kota dan desa sehingga dapat menghasilkan kerja sama. Desa dibangun untuk menciptakan orang-orang yang berdaya dengan BUMDES sehingga jarak antara skills orang desa dan kota menjadi dapat dipotong.
Connectivity Sangat mudah dan murah untuk mendapatkan koneksi saat ini. Pengembangan ekonomi. Desa dibangun tidak hanya dengan konektivitas fisik tetapi juga dengan konektivitas digital dengan memperkenalkan sistem terintegrasi.
Pola Konsumsi Pola konsumsi, kualitas makanan, dan ekspektasi hidup. Menyediakan bahan pokok konsumsi yang ditanam di desa. Prukades berfokus tidak hanya pada jagung, tetapi juga berbagai macam bahan makanan lainnya.
Penurunan Ekologi dan Kelangkaan Sumber Daya Penurunan kualitas air, tanah, dan peningkatan kebutuhan energi. Kebutuhan desa yang memiliki clean water, food, dan air. Program embung desa untuk penampungan air.
Dinamika Populasi Pemuda akan berpindah karena tidak didukung tempat asalnya. Perpindahan ke desa untuk bekerja. Baik tani maupun non-tani. Program BUMDES dan Prukades yang menghasilkan 10 juta pekerjaan.
Urbanisasi Batas antara kota dan desa yang semakin sulit dibedakan. Desa akan langsung berhubungan dengan kota. Keterbatasan ekonomi yang semakin menguat. Pengembangan program tani dan non-tani di desa.
Perkembangan Teknologi Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih efisien. Pengembangan pertanian berbasis ketahanan. Pembangunan social capital dan penetrasi teknologi dengan langkah yang jelas.
Kesejahteraan Kemiskinan berkurang akan tetapi ketimpangan terus terjadi. Jika kemiskinan kota terus terjadi, perhatiannya akan terus di kota, dan desa jadi terpinggirkan. UU Desa untuk mengurangi ketimpangan perkembangan di Indonesia.

Dilihat dari 8 faktor penyebab ini, upaya yang dilakukan oleh Kemendesa patut diancungi jempol karena secara utuh mengatasi 8 faktor disrupsi bagi desa di masa yang akan datang. Namun, bagaimana agar hal ini tetap berkelanjutan? Apa kah para birokrat kit asudah siap? Apakah para pemimpin di masa depan rela membangun desa?

SHARING ECONOMY DESA

Untuk menyukseskan Prukades, 6 Dirjen Kemendesa harus turun menjadi fasilitator untuk memantau 10-15 kabupaten per Dirjen. Fasilitas yang dibangun tidak hanya langsung turun ke lapangan, tetapi juga melibatkan social entrepreneur.

Pelibatan para social entrepreneur diyakini Kemendesa dapat membantu melakukan pendekatan di berbagai kawasan yang memiliki karakter berbeda. Perlu diketahui, Indonesia umumnya terbagi 2 jenis kawasan. Pertama, kawasan yang luas dengan potensi serupa, namun dimiliki oleh perorangan yang sangat fragmented, dan yang kedua, kawasan luas yang hanya dikelola orang tertentu. Klasifikasi yang jelas akan bermanfaat langsung kepada masyarakat, bukan orang tertentu.

Kemendes melakukan pendekatan yang mendorong partisipasi aktif masyarakat dengan pendekatan 5K, yaitu Konsensus, Keterpaduan, Kelembagaan, Komunikasi, dan Keberlanjutan. Hal ini dilakukan agar program harus berdasarkan kesepakatan bersama yang dibangun berdasarkan hubungan supply dan demand.

Pola kerja sama hulu dan ke hilir ini ialah bagian penting dari suksesnya program yang dilakukan. Bagaimana tidak, banyak perusahaan baik BUMN maupun swasta yang terlibat dalam menyukseskan program Kemendesa ini. Perusahaan-perusahaan ini bersedia mendukung para petani, misalnya dari penyediaan pupuk, traktor, alat tani, sampai menyediakan pasarnya. Terciptanya kolaborasi untuk membangun kapasitas skala ekonomi di desa dan memberikan nilai tambah bagi produk-produk yang dihasilkan desa.

Pembangunan infrastruktur dan juga manusia ini mampu mendorong pembangunan mental manusia di perdesaan yang berdaya, dan individu-individu yang memiliki kemampuan entrepreneurhip yang baik. Keterbukaan informasi memudahkan para pengembang BUMDES maupun Prukades mengenai manajemen desa, misalnya di platform Akademi Desa 4.0. Pada Platform ini para peserta dapat belajar hal-hal dalam manajemen desa, seperti keuangan, bahkan sampai teknik pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Kita dapat belajar dari desa Pujon Kidul, yang memnafaatkan kolaborasi dengan BUMN dalam mengembangkan desa wisatanya. Dimulai dari tahun 2014, saat ini salah satu unit usaha BUMDesa Sumber Sejahtera di Kabupaten Malang ini dapat meraup omzet hingga 400 juta per bulan dan mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk 80 pemuda yang menganggur di desa tersebut.

Jika kolaborasi ini terus berlanjut, manfaat yang dirasakan oleh desa maupun para stakeholders yang lainnya jelas akan meningkat. Apa kira-kira yang terjadi dengan desa di masa depan?

Bagikan...

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *