Peran Jurnalisme Warga Dalam Mengembangkan Website Desa

Aktivitas bermedia sudah merambah hingga ke pelosok desa. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan pengaruh besar terhadap pembangunan desa. Salah satu konsep desa membangun yaitu desa melek informasi dan teknologi. Desa dapat dengan mudah mengakses, mengolah, dan memproduksi informasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi desanya. Pemanfaatan teknologi informasi ini tidak hanya mencari informasi, akan tetapi juga mengunggah atau mempublikasikan informasi. Dalam proses pencarian informasi melibatkan jurnalis warga.

Perkembangan internet sangat terlihat dengan bertambahnya jumlah pengguna internet yang mewujudkan budaya internet. Saat ini, aktivitas bermedia sudah merambah hingga ke pelosok desa. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan pengaruh besar terhadap pembangunan desa. Desa-desa yang selama ini termajinalkan dalam peta TIK kini perlahan-lahan mulai dikenal secara global.

Digitalisasi TIK yang didukung perkembangan insfrastruktur jaringan komunikasi seluler membuka akses terhadap konektivitas antar desa maupun masyarakat lain. Kondisi ini menjawab ramalan Marshall Mc Luhan saat memperkenalkan gagasan desa global (global village) setengah abad yang lalu. Global Village menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat.

Konsep desa global dalam konteks sebenarnya ialah terjadi dalam komunitas pedesaan Indonesia saat ini. Berdasarkan data profil website Gerakan Desa Membangun (GMD) diperoleh data bahwa Gerakan Desa Membangun (GDM) tercetus pada 24 Desember 2011 di Desa Melung, Kedungbanteng, Banyumas. Gerakan Desa Membangun (GDM) berkaitan erat dengan pemanfaatan teknologi informasi karena dalam pelaksanaan kegiatannya menggunakan media teknologi informasi. Salah satu konsep desa membangun yaitu desa melek informasi dan teknologi, dimana desa dapat dengan mudah mengakses, mengolah, dan memproduksi informasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi desanya. Pemanfaatan teknologi informasi ini tidak hanya mencari informasi, akan tetapi juga mengunggah atau mempublikasi informasi.

Peran Jurnalisme Warga Dalam Media Online

Strategi pemanfaatan jurnalisme warga untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat, dilakukan melalui fungsi utama jurnalime, yakni publikasi atau fungsi pengkabaran. Fungsi ini, termanifestasikan dalam beberapa fungsi khusus:

Pertama, fungsi informasi. Ini adalah fungsi jurnalisme yang paling mendasar, dimana khalayak diandaikan tidak tahu, maka menjadi kewajiban media untuk memberi tahu. Dengan prinsip 5W + 1H, para jurnalis warga menyampaikan berbagai informasi pembangunan, mulai dari kabar seremonial (informasi kegiatan), hingga capaian-capaian prestasi. Melalui website desa, para jurnalis warga mengkabarkan berbagai peristiwa atau kejadian di desa, misalnya berita tentang kedatangan pejabat, sosialisasi kebijakan, seminar atau diskusi, kerja bakti, dan lain sebagainya. Segala peristiwa yang ada di sekitar mereka, dengan tetap mengindahkan nilai-nilai jurnalistik, agar berita itu menjadi menarik. Selama ini, nilai jurnalistik yang paling jadi pertimbangan adalah kedekatan. Karena warga pada dasarnya senang menyimak berita tentang daerahnya sendiri, meskipun berita itu sekadar kegiatan jalan sehat atau kerja bakti. Mereka suka desanya ditulis, atau ada foto mereka di berita itu. Dengan menulis kejadian yang dekat-dekat, juga tak menyulitkan bagi para Jurnalis Warga. Mereka ini kan tidak dibayar, jadi tak ada biaya liputan untuk hal-hal yang jauh dari rumah.

Kedua, fungsi advokasi. Fungsi advokasi ini diartikan sebagai pemberitaan yang berorientasi untuk pembelaan pada suatu masalah tertentu atau seseorang yang perlu dibantu. Fungsi ini biasanya dilakukan dengan pemberitaan masalah yang mendorong orang atau pembaca untuk ikut andil dalam penyelesaiannya. Misalnya, berita tentang seorang anak dari keluarga miskin yang putus sekolah. Dengan berita yang menyentuh perasaan, akhirnya jadi viral, dan mendorong banyak orang untuk membantu. Ada kisah juga tentang anak disabilitas, yang diberitakan oleh seorang jurnalis warga dari desa setempat. Anak pengidap folio yang berumur 16 tahun ini sejak kecil tak bisa berjalan. Dia berasal dari keluarga miskin, sehingga tak bisa membeli kursi roda. Pemberitaan ini akhirnya mendorong berbagai donasi. Si anak tak hanya mendapatkan kursi roda cuma-cuma, tetapi juga rumahnya yang reyot kemudian mendapat bantuan renovasi. Fungsi advokasi ini memang akan nampak pada berita-berita yang ‘kurang menyenangkan’ dari masyarakat, seperti berita tentang krisis jamban atau banyaknya anak yang putus sekolah. Fungsi ini seolah mengikuti adigium klasik jurnalisme, “bad news is good news”. Tapi mereka memberitakan hal buruk bukan untuk mencari sensasi, tetapi semata ingin membuka mata berbagai pihak, agar ikut membantu atau berperan serta dalam penyelesaian masalah. Ketika kita kampanyekan penanaman mangrove, ya kita sampaikan masalah-masalah yang ada, misalnya abrasi yang makin parah. Dengan keterlibatan masyarakat, kita bisa tanam mangrove di lahan 25 hektar.

Ketiga, fungsi promosi. Melalui fungsi ini, jurnalis lebih banyak mengkabarkan hal-hal positif dari desa, misalnya informasi tentang pariwisata desa atau sentra usaha (UMKM). Fungsi ini sejalan dengan misi public relations desa, yakni memberitakan yang terbaik dari desa. Sehingga, prinsip pemberitaannya pun, ‘good news is good news’. Fungsi ini mengandaikan, semakin banyak orang tahu hal positif tentang desa, mereka akan tertarik untuk datang ke desa. Mereka bisa datang sebagai turis yang akan membelanjakan uangnya di desa atau sebagai investor. Fungsi promosi ini seperti jembatan yang menghubungkan desa dengan dunia luar. Potensi desa yang luar biasa belum terekspose ke luar, sehingga masih sulit berkembang. Kita ini di zaman Internet yang katanya menghapuskan jarak, yang membuat tak ada lagi yang tidak terekspose. Tapi kenyataannya, masih banyak wilayah seperti perdesaan yang belum terekspose Dan tak ada yang mau memberitakan desa, kecuali warga desa itu sendiri. Kalau di desa ada kejadian luar biasa, baru wartawan mainstream berdatangan. Kalau berita-berita positif, apalagi lingkupnya desa, mana ada yang mau nulis? Makanya, warga sendiri yang harus menuliskan desanya.

Ketiga fungsi tersebut pada dasarnya merupakan upaya membentuk opini publik. Relevansinya dengan pemberdayaan, partisipasi masyarakat akan bergantung pada kesadaran. Di era Internet sekarang ini, kesadaran warga sangat dipengaruhi oleh media sosial, media yang sekarang banyak dipakai oleh warga. Kesadaran inilah yang nanti akan menggerakkan keterlibatan warga dalam berbagai program pembangunan. Jadi, sukses tidaknya berita yang dibuat oleh para jurnalis warga ini nanti nampak dari seperti apa perubahan yang bisa dihasilkan. Para aktivis Jurnalis Warga ini pun menjadikan ‘strory of change’ sebagai indikator kinerja mereka.

Kesimpulan

Kontribusi jurnalisme warga ini dirasakan manfaatnya, baik secara individual maupun sosial. Secara individual, para jurnalis warga merasa bertumbuh, baik dari sisi mental (rasa percaya diri) ataupun kapasitas pengetahuan. Inilah hakikat berdaya secara personal. Kontribusi sosial jurnalisme warga ini pada umumnya dilakukan melalui penggalangan dana dari masyarakat melalui kampanye media (crowd funding). Semua diawali oleh program yang mereka canangkan. Misalnya dalam bidang kesehatan, mereka membuat program pembuatan jamban murah, mengingat di beberapa wilayah masih banyak warga yang belum memiliki jamban. Mereka kemudian menawarkan bentuk kontribusi masyarakat, misalnya Rp 1 juta untuk satu jamban per rumah. Agar masyarakat juga terberdayakan dana tersebut tidak diberikan semuanya, tapi hanya separuh dan mereka harus menggenapi sisanya. Dengan begitu, dana yang tersisa bisa dipakai untuk warga yang lain, sehingga jangkauan program bisa lebih meluas. Mereka menggunakan kekuatan narasi untuk mendorong keterlibatan masyarakat setempat.

Di sini, bisa ditandaskan, strategi jurnalistik dengan mengandalkan kekuatan narasi yang berpadu dengan aktivisme sosial telah menjadi energi positif dan konstruktif dalam program pembangunan masyarakat. Ada masalah dalam masyarakat di satu sisi dan ada pihak-pihak yang bisa berkontribusi di sisi lainnya, dan kemudian jurnalisme yang mempertemukan dua sisi tersebut.

Begitu banyak manfaat yang dirasakan dari peran Jurnalisme Warga dalam membangun potensi desanya melalui website desa. Jadi kapan lagi desa bisa bersuara dan dikenal kalua tidak dengan Jurnalisme Warga yang dibantu oleh aparatur pemerintahan desa masing-masing.

Sumber : Jurnal Kajian Komunikasi

Bagikan...

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *